Senin, 02 Januari 2017

Diam Dalam Kediaman-Nya Itu Emas


Konon di negeri Tiongkok pernah ada seorang GURU yang sangat dihormati karena tegas dan jujur. Suatu hari, kedua murid tersebut menghadap GURU. Mereka bertengkar hebat dan nyaris beradu fisik. Ke dua nya berdebat tentang hitungan 3 x 7. Murid pandai mengatakan 21, Murid bodoh bersikukuh mengatakan 27.

Murid bodoh menantang murid pandai untuk meminta GURU sebagai Jurinya untuk mengetahui siapa yang benar diantara mereka, sambil si bodoh mengatakan : “Jika saya yang benar 3 x 7 = 27 maka engkau harus mau di cambuk 10 kali oleh GURU, tapi jika kamu yang benar ( 3 x 7 = 21 ) maka saya bersedia untuk memenggal kepala saya sendiri ha ha ha ” demikian si bodoh menantang dengan sangat yakin dengan pendapatnya
“Katakan GURU mana yang benar ?” tanya murid bodoh. Ternyata GURU memvonis cambuk 10 x bagi murid yang pandai (orang yang menjawab 21). Si murid pandai protes keras !!
GURU menjawab : “Hukuman ini bukan untuk hasil hitunganmu, TAPI utk KETIDAK ARIFAN mu yang mau-maunya berdebat dengan orang bodoh yang tidak tahu kalo 3 x 7 adalah 21”
Guru melanjutkan : “Lebih baik melihatmu dicambuk dan menjadi ARIF, daripada GURU harus melihat 1 nyawa terbuang sia-sia !”

Pesan Moral :
Jika kita sibuk mmperdebatkan sesuatu yang tak benar, berarti kita juga sama salahnya atau bahkan lebih salah dari pada orang yang memulai perdebatan, sebab dengan sadar kita membuang waktu dan energi untuk hal yang tidak perlu.

Bukankah kita sering mengalaminya? Bisa terjadi dengan pasangan hidup, rekan kerja, teman, saudara, tetangga, keluarga, dll. Berdebat atau bertengkar untuk hal yang tidak benar, hanya ajakan menguras energi percuma.

Ada saatnya kita diam untuk menghindari perdebatan atau pertengkaran yang sia-sia. Diam bukan berarti kalah, bukan ? Memang tidak mudah, tapi janganlah sekali-sekali berdebat dengan orang yang tidak memahami permasalahan, TAPI merasa dirinya SUDAH paling benar… padahal sudah jelas-jelas SALAH seperti cerita di atas..

Merupakan suatu kearifan bagi kita, yang bisa mengkontrol diri dan menghindari kemarahan serta pertengkaran karena…..

Diam, itulah jawaban bagi yang bertanya tentang Cinta.
Karena kesunyian adalah kuncinya.
Hingga sang Waqtu melahirkanmu
Kembali membayikan jiwa dan hati
Fithri merindu ibu bapak yang Sejati.
Ramadhan, itu jalannya
Syahadah dan shalat itu awalnya
Zakat itu perjuangannya
Berhaji itu tujuan kerinduannya
Liqa’ itu nikmatnya

Minggu, 01 Januari 2017

Keajaiban Pikiran


Pikiran manusia berdasarkan kondisi kesadaran dapat dibedakan menjadi dua kondisi dasar yaitu : 

Pikiran Sadar (Conscious Mind) dan Pikiran Tidak Sadar (Unconscious Mind). 
Demikianlah segala sesuatu di dunia ini tercipta selalu berpasangan, Laki-Perempuan, Hitam-Putih, Postif-Negatif dan sebagainya. Namun kita mengetahui pula bahwa ada kondisi lain di antara kedua kondisi dasar tersebut, yang bisa kita sebut sebagai ‘Kondisi Antara’. Di antara Laki-Perempuan ada Banci, di antara Hitam-Putih ada abu-abu, di antara Positif-Negatif ada Netral. Maka di antara Pikiran Sadar dan Pikiran Tidak Sadar ada kondisi antara yaitu Pikiran Bawah Sadar (Subconscious Mind).

Pikiran Tidak Sadar (Unconscious Mind) atau pikiran yang berada di alam tidak sadar hampir dapat dikatakan tidak ada pengaruhnya terhadap aktivitas kehidupan kita, kalaupun ada pengaruhnya tidak signifikan. Dan menurut beberapa ahli Mind Technology, Pikiran Sadar (Conscious Mind) atau pikiran yang berada di alam sadar hanya 12% mempengaruhi aktivitas kehidupan manusia, sedangkan 88% justru peran dari Pikiran Bawah Sadar (Subconscious Mind) atau pikiran yang berada di Alam Bawah Sadar. 

Untuk memudahkan, katakan Pikiran Sadar (Conscious Mind) mempengaruhi aktivitas kehidupan hanya 10% dan Pikiran Bawah Sadar (Subconscious Mind) 90%. Sehingga Pikiran Bawah Sadar (Subconscious Mind) memiliki kekuatan 9X lebih kuat dibanding dengan Pikiran Sadar (Conscious Mind). 
Sebagai contoh, jika pada malam hari (apalagi malam Jumat Kliwon) kita diminta untuk masuk ke kamar mayat di sebuah Rumah Sakit sendirian. Kemungkinan besar kita tidak akan bersedia karena ada perasaan takut. Jika kita menggunakan Pikiran Sadar (Conscious Mind) seharusnya kita tidak takut, toh yang tergeletak itu hanya seonggok mayat, mahluk yang tak bernyawa, yang tidak bisa bergerak lagi, yang tidak bisa mengancam jiwa kita. Tetapi Pikiran Bawah Sadar (Subconscious Mind) kita telah berisi program tentang hantu, roh jahat dan sebagainya sehingga membuat kita ketakutan. Dan Pikiran Bawah Sadar (Subconscious Mind) 9x lebih kuat dari pada Pikiran Sadar (Conscious Mind).
Pikiran Sadar mempunyai 4 (empat) fungsi utama :
1. Mengidentifikasi informasi yang masuk kedalam pikiran (melalui panca indra). 
2. Membandingkan informasi yang masuk dengan database yang berada di dalam Pikiran Bawah Sadar yang merupakan referensi, pengalaman dan informasi lain yang berkaitan. 
3. Menganalisa yaitu membuat hipotesa-hipotesa atas informasi yang masuk berdasarkan hasil dari fungsi ke 2 yaitu membandingkan. Lalu dari hipotesa-hipotesa akan menghasilkan satu kesimpulan yang dirasa benar berdasarkan database yang dimiliki.
4. Memutuskan, setelah kesimpulan diambil maka segera Pikiran Sadar memutuskan respon atau tindakan apa yang diambil dan diberikan atas stimulus informasi yang masuk.
Sedangkan Pikiran Bawah Sadar mempunyai fungsi sebagai berikut :
Menyimpan suatu kebiasaan (yang baik, buruk ataupun reflek). 
Menyimpan dan membangkitkan emosi yang merupakan respon atas hal-hal tertentu. 
Sebagai memory jangka panjang dan bersifat (relatif) permanen. Bahkan memory yang sudah dilupakan oleh Pikiran Sadar masih tersimpan dan dapat dimunculkan kembali. 
Sebagai penyimpan karakteristik individual atau kepribadian dalam kaitannya dengan relasi/hubungan terhadap orang lain/lingkungan.Sebagai sumber intuisi, perasaan yang terhadap sesuatu yang belum terjadi dan lebih bersifat spiritual dan/atau metafisik.
Sebagai sumber kreativitas sehingga kita mampu memiliki visi, pemikiran dan impian yang akan kita wujudkan.
Persepsi yaitu cara kita melihat orang lain dan lingkungan berdasarkan ’kacamata’ kita yang dipengaruhi oleh isi database yang kita miliki.
Tempat menyimpan belief atau sesuatu yang kita percayai dan yakini kebenarannya (menurut diri sendiri) dan juga tempat menyimpan Value atau sesuatu yang sangat bernilai atau penting.

Pikiran Bawah Sadar merupakan sumber emosi dan perasaan, sehingga emosi dan perasaan seringkali muncul mendadak dan begitu saja tanpa diketahui oleh Pikiran Sadar. Emosi dan perasaan adalah bentuk ekspresi Pikiran Bawah Sadar sebagai respon terhadap sesuatu.

Sebagai contoh tatkala kita berhubungan pertama kali dengan seseorang maka di bawah sadar kita sudah dapat merasakan apakah kita cocok atau kita tidak cocok, karena ketika kita berkenalan maka tidak saja Pikiran Sadar kita yang berkenalan tetapi masing-masing Pikiran Bawah Sadar akan saling berkomunikasi. 

Pikiran dapat mempengaruhi fungsi organ tubuh. Misal Kekhawatiran akan meningkatkan produksi asam lambung, kemarahan akan merangsang kelenjar andrenal dan meningkatkan andrenalin dalam darah. Juga ada beberapa kondisi tubuh memburuk karena disebabkan oleh pikiran (psikosomatik). Para pakar kesehatan menyatakan bahwa lebih dari 75% sakit yang diderita manusia bersifat psikosomatis yaitu terganggunya fungsi organ yang disebabkan oleh reaksi sistim saraf karena pengaruh Pikiran Bawah Sadar. Pikiran dan tubuh saling mempengaruhi, apa yang terjadi dalam pikiran akan mempengaruhi tubuh demikian juga sebaliknya.
Kemampuan Pikiran Bawah Sadar terpisah dari Pikiran Sadar. Meskipun kedua pikiran tersebut bekerja secara paralel namun proses berpikir dan merespon terhadap sesuatu saling terpisah meskipun saling mempengaruhi. Pikiran Sadar berada pada ranah pengetahuan nyata (logika) sedangkan Pikiran Bawah Sadar lebih pada imajinasi dan intuisi.  Apabila terjadi konflik atau ketidak sesuaian antara Pikiran Sadar (logika) dengan Pikiran Bawah Sadar (imajinasi) maka imajinasi selalu lebih kuat dan menang. Konflik terjadi apabila ada dua ide yang bertentangan membutuhkan respon secara bersama.

Sebagai contoh misal Anda diminta untuk bersepeda di lintasan baja tebal selebar 50 cm sepanjang 10 meter yang diletakkan di atas tanah, saya yakin Anda berani dan akan berhasil bersepeda melewati lintasan baja tersebut tanpa terpeleset ke tanah. Sekarang apabila lintasan baja yang sama diletakkan di antara dua atap bangunan berlantai lima dan Anda diminta untuk bersepeda diatasnya. Apa yang terjadi ? Anda takut ? tidak berani ? padahal secara logika lintasan baja tebal tersebut sangat tebal tidak mungkin patah dan juga cukup lebar untuk dilewati menggunakan sepeda. Anda sudah berhasil dengan mudah melewati tanpa terpeleset ke tanah. Tetapi imajinasi Anda tentang jatuh dari ketinggian membuat Anda ketakutan.

Pikiran Bawah Sadar adalah tempat penyimpanan informasi yang luas dan bersifat permanen. Apabila ada suatu informasi atau ide yang diterima pikiran, maka ide itu akan menetap di dalam Pikiran Bawah Sadar. Ide tersebut akan tetap berada di dalam Pikiran Bawah Sadar sampai ada ide baru yang diterima untuk dapat menggantikan ide lama. Semakin lama suatu ide menetap di Pikiran Bawah Sadar maka semakin besar melakukan perlawanan atau penolakan terhadap ide baru yang akan menggantikannya. Hal tersebut menunjukan betapa sulitnya kita merubah suatu kebiasaan dengan kebiasaan baru atau bahkan merubah suatu keyakinan dengan keyakinan baru.

Pikiran Bawah Sadar mengamati dan memberi respon terhadap sesuatu dengan sangat jujur, apa adanya. Pikiran Bawah Sadar tidak melakukan penilaian terhadap ide atau informasi, bias, prasangka, penghakiman, harapan, persepsi dan sebagainya adalah hasil kerja Pikiran Sadar. Pikiran Bawah Sadar menyerap dan mengerti realita berdasarkan database yang ada tanpa memberikan makna dan penjelasan yang rumit.

*Dikompilasi dari berbagai sumber.

Jumat, 07 Oktober 2016

Hakekat Kafir, Munafik, Zhalim dan Fasiq


Nifaq = Noda Hitam. Munafiq = Tempat berkumpulnya Noda Hitam. Secara hakekat, Munafiq adalah Qalbu yang penuh dengan Noda Hitam, sehingga ketika Qalbu tersebut di hadapkan ke Arah Nur Ilahi, maka Nur Ilahi tidak Nampak dalam Qalbunya, kerena terhalang oleh Noda-Noda Hitam, sehingga menjadi gelaplah Qalbu tersebut. Oleh karena itu hindarilah diri kita dari kemunafiqan.
Zhulmah = Kegelapan, seakar kata dengan kata Zhalim. Secara hakekat,Zhalim mengandung arti Qalbu yang Gelap, sehingga Nur Ilahi tidak Nampak dalam Qalbunya, Oleh karena itu hindarilah diri kita dari kezhaliman.
Kafir = Tertutup. Secara hakekat, kata kafir mengandung arti Qalbu yang tertutup. Sehingga ketika Qalbu itu dihadapkan kepada Nur Ilahi, maka Nur Ilahi tidak Nampak dalam Qalbunya. Oleh karena itu hindarilah diri kita dari kekafiran.
Fasiq = tidak jujur. Secara hakekat, fasiq mengandung arti ketidak jujuran diri terhadap Qalbu sendiri. Qalbunya tidak bersyahadat (menyaksikan keberadaan) Allah dan Rasul-Nya, tetapi mulutnya berkata aku bersaksi. Sehingga kita menjadi orang yang bersyahadat palsu. Oleh karena itu hindarilah diri kita dari kefasiqan.

Janganlah Bersyahadat Palsu


Syahadat-musyahadah-syuhada-syahida artinya saksi, penyaksi, kesaksian, menyaksikan, bersaksi. Jadi syahadat artinya saksinya seorang penyaksi yang menyaksikan kepada siapa dia bersaksi. Kalau kita bersyahadat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka kita harus menyaksikan kehadiran Allah dan Rasul-Nya,kalau tidak menyaksikan, maka saksi kita adalah saksi palsu dan syahadatnya batal.

Intinya syahadat bukan sekedar ucapan belaka tanpa disertai penyaksian, tetapi kesaksian yang muncul berdasarkan pengalaman langsung menyaksikan kepada siapa kita bersaksi. Sehingga kita benar-benar menjadi saksi mata bukan sekedar saksi kuping apalagi cuma saksi mulut.

“Dosa syahadat palsu sebanding dengan dosa menduakan Tuhan” (HR. Abu Daud, Turmudzi, dan Ibnu Majjah)

“Dosa-dosa yang paling besar ialah syirik kepada Allah, menyakiti kedua orang tua dan syahadat palsu”. Beliau masih terus mengulangi kata-kata itu, sehingga kami (para shahabat) berkata : “Kenapa beliau tidak mau diam?” (HR. Bukhari dan Muslim )

Janganlah kita menyepelekan dua kalimat syahadat yang selama ini kita anggap hanya sebatas kalimat yang harus dihafal dan diucapkan semata, karena tanpa dua kalimat itu maka keislaman kita tidaklah syah. Itulah faham yang selama ini ada dibenak kita, syahadat hanya sekedar sebuah kalimat simbol keislaman, namun pernah kah kita mau sedikit berfikir apa alasan yang mendasar sehingga syahadat itu diberikan posisi teratas dalam proses keislaman kita ?

Hakekat syahadat adalah persaksian, persaksian antara hamba dan Tuhannya. Mengapa harus ada dua kalimat ? karena jika hanya satu yang bersaksi maka pihak yang lain tak bersaksi, karena didalam syahadat itu ada dua pihak yang bersaksi, yaitu hamba dan Tuhannya. Dimanakah posisi kita dalam dua kalimat syahadat ? Hambakah ? ataukah Tuhan ?

Siapa yang bersaksi dan apa yang kita saksikan ? Disinilah asal muasal sebuah kalimat " jika engkau mengenal dirimu, maka engkau akan mengenal Tuhanmu tapi jika engkau sudah mengenal Tuhanmu, maka engkau akan jahil atas dirimu"

Ketika kita sudah jahil atas diri kita maka naiklah maqam kita ketingkat syahadat selanjutnya yaitu seperti yang terekam dalam surat 20 : 14

"Sesungguhnya Aku ini Allah, tidak ada Tuhan selain Aku. Maka sembahlah dan dirikanlah sholat untuk mengingat Aku".

Kamis, 06 Oktober 2016

Membagi Amanah Kehormatan Kepada Semua Manusia Tanpa Membedakan SARA


Ada beberapa saat sebaiknya kita manfaatkan waktu sebaik-baiknya, dalam hal ini adalah agar waktu yang sedikit ini memberi manfaat kepada kita sebagai mukmin untuk merenung, dan Insya Allah, dalam perenungan itu ada nilai-nilai yang mempertajam Tauhid kita hanya kepada Allah SWT.

Marilah kita lihat kembali sejarah Islam yaitu ketika masyarakat kota Mekah bergotong royong membangun kembali Baitullah yang rusak akibat banjir yang melanda kota Mekah. Pada permulaannya mereka nampak bersatu dan bergotong royong mengerjakan pembaharuan Baitullah itu. Tetapi ketika sampai kepada soal peletakkan Batu Hajar Aswad ke tempat asalnya, terjadilah perselisihan sengit antara pemuka-pemuka Quraisy itu.

Pada saat yang kritis itu tercetuslah ide dari Muhammad SAW untuk menyelesaikan masalah tersebut sehingga mereka bersepakat untuk memutuskan bahwa siapapun yang datang dari arah tertentu dan orang itu merupakan orang yang pertama datang, maka dialah yang mempunyai kewajiban untuk mengangkat Batu Hajar Aswad ketempatnya semula.

Orang-orang mengatakan kebetulan tetapi menurut Allah dalam Al Qur’an “tidak ada yang sia-sia dan kebetulan”, tetapi semua yang terjadi sudah dirancang oleh Allah dengan sempurna. Hal ini sesuai dengan firman-Nya :

"Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau ciptakan semua ini dengan sia-sia" ( QS Ali Imran 3 : 191)

Bukanlah suatu kebetulan jika yang pertama kali datang dari arah tertentu itu adalah Muhammad SAW. Maka kaum Quraisy menghimbau agar beliau mengangkat Batu Hajar Aswad ke tempatnya semula, namun demikian bijaksananya Rasulullah SAW dalam mensikapi himbauan tersebut. Beliau mengajak empat orang Pemuka Kabilah untuk mengangkat bersama-sama dengan Rasulullah SAW. Jadi ada lima orang yang mengangkat Batu Hajar ke tempatnya semula dengan cara menggunakan sorban Rasulullah SAW sebagai tempat untuk mengangkatnya. 

Mestinya ada suatu kebanggaan bagi Muhammad SAW, karena mendapatkan kesempatan mengangkat Batu Hajar Aswad tersebut dengan kedua belah tangannya tanpa memerlukan bantuan orang lain. Tetapi bagi Rasulullah SAW, suatu yang terhormat itu ingin dibagi kepada orang lain, agar mereka juga merasa terhormat. Tugas yang mulia itu tidak ingin dimiliki oleh Muhammad SAW sendiri, tetapi beliau juga menghendaki agar semua orang bisa memiliki tanggung jawab yang sama atas satu tugas yang begitu terhormat.

Ini nampaknya suatu hal yang biasa-biasa saja, tetapi kalau kita masuk kepada esensi kejadian tersebut, maka barulah kita paham bahawa itulah ciri jiwa besar seorang Muslim, seorang Muhammad SAW yang telah mendapatkan wahyu dari Allah SWT.

Marilah kita tengok di kanan-kiri kita, seorang Muslim yang demi mendapatkan suatu kesempatan terhormat dan disangkanya hal itu sebagai kehormatan, maka dia akan melakukan segalanya, kalau perlu teman-temannya disingkirkan dan lawan-lawannya dibantai agar tidak memperoleh kesempatan melakukan pekerjaan yang terhormat tersebut. Inilah yang harus kita pertanyakan dari diri kita sendiri. Peristiwa yang mensejarah dan mengambarkan, bawa kehormatan harus dibagi kepada orang-orang yang terdekat, bahkan untuk semua umat manusia. Karena kita tahu bahwa ke empat orang tersebut, mewakili Kabilah yang terdiri dari berbagai macam suku dan kemudian kita bisa baca dari peristiwa tersebut, agar setiap orang merasa terhormat karena merasa memiliki suatu pekerjaan besar.

Marilah kita renungkan ke dalam diri masing-masing, mestinya kita bersikap egois, kita tidak perlu bersikap individualis dan primordialis dalam menyelesaikan masalah-masalah keagamaan, masalah-masalah kemasyarakatan, kenegaraan dan masalah apapun juga. Bahkan marilah kita tengok kembali, tak jarang orang harus menyinggkirkan teman-temannya. Kalau perlu dengan fitnah, hanya untuk memegang suatu jabatan tertentu yang disangkanya jabatan itu memberikan kehormatan ketika dia pegang sendiri.

Marilah dalam Islam ini, kita praktekkan bahwa sesungguhnya kehormatan yang kita pegang mestinya juga memberikan kehormatan kepada seluruh umat manusia, dimana semuanya memiliki tanggung jawab, rasa kepemilikan, melu handar beni. Dengan demikian Insya Allah, hati seluruh umat manusia akan tetap menyatu di tangan orang-orang bijak di bawah naungan Cahaya Illahi Rabbi.

Sebagai penutup tulisan ini marilah kita renungkan firman Allah dalam Kitab Suci Al Qur’an berikut ini :

“Hai manusia sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari orang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal….” (QS Al Hujurot 49 : 90).

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku adil dan berbuat kebajikan serta memberi bantuan kepada kaum kerabat dan Allah melarang perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan ….” (QS An nahl 16 : 90)

“Dan tolong menolong kamu dalam kebajikan dan taqwa dan menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, merekalah orang-orang yang beruntung “(QS Ali Imran 3 : 104).

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh untuk ma’ruf dan mencegah yang mungkar dan beriman kepada Allah ….” (QS Ali Imran 3 : 110).

‘Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya dan Ulil Amrimu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikan masalah itu kepada Allah dan Rasul-Nya, jika kamu benar-benar beriman kepada Allah, sebab yang demikian itu lebih utama bagimudan lebih baik akibatnya…….” (QS An Nisa 4 : 59).

“Dan Dia-lah Allah yang dapat mempersatukan hati orang-orang yang beriman. Walaupun kamu belanjakan semua kekayaan yang berada di bumi niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allahlah yang dapat mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS Al Anfal 8 : 63)

Rabu, 05 Oktober 2016

Keajaiban Pikiran*

Pikiran manusia berdasarkan kondisi kesadaran dapat dibedakan menjadi dua kondisi dasar yaitu :

Pikiran Sadar (Conscious Mind) dan Pikiran Tidak Sadar (Unconscious Mind).

Demikianlah segala sesuatu di dunia ini tercipta selalu berpasangan, Laki-Perempuan, Hitam-Putih, Postif-Negatif dan sebagainya. Namun kita mengetahui pula bahwa ada kondisi lain di antara kedua kondisi dasar tersebut, yang bisa kita sebut sebagai ‘Kondisi Antara'. Di antara Laki-Perempuan ada Banci, di antara Hitam-Putih ada abu-abu, di antara Positif-Negatif ada Netral. Maka di antara Pikiran Sadar dan Pikiran Tidak Sadar ada kondisi antara yaitu Pikiran Bawah Sadar (Subconscious Mind).


Pikiran Tidak Sadar (Unconscious Mind) atau pikiran yang berada di alam tidak sadar hampir dapat dikatakan tidak ada pengaruhnya terhadap aktivitas kehidupan kita, kalaupun ada pengaruhnya tidak signifikan. Dan menurut beberapa ahli Mind Technology, Pikiran Sadar (Conscious Mind) atau pikiran yang berada di alam sadar hanya 12% mempengaruhi aktivitas kehidupan manusia, sedangkan 88% justru peran dari Pikiran Bawah Sadar (Subconscious Mind) atau pikiran yang berada di Alam Bawah Sadar.

Untuk memudahkan, katakan Pikiran Sadar (Conscious Mind) mempengaruhi aktivitas kehidupan hanya 10% dan Pikiran Bawah Sadar (Subconscious Mind) 90%. Sehingga Pikiran Bawah Sadar (Subconscious Mind) memiliki kekuatan 9X lebih kuat dibanding dengan Pikiran Sadar (Conscious Mind).

Sebagai contoh, jika pada malam hari (apalagi malam Jumat Kliwon) kita diminta untuk masuk ke kamar mayat di sebuah Rumah Sakit sendirian. Kemungkinan besar kita tidak akan bersedia karena ada perasaan takut. Jika kita menggunakan Pikiran Sadar (Conscious Mind) seharusnya kita tidak takut, toh yang tergeletak itu hanya seonggok mayat, mahluk yang tak bernyawa, yang tidak bisa bergerak lagi, yang tidak bisa mengancam jiwa kita. Tetapi Pikiran Bawah Sadar (Subconscious Mind) kita telah berisi program tentang hantu, roh jahat dan sebagainya sehingga membuat kita ketakutan. Dan Pikiran Bawah Sadar (Subconscious Mind) 9x lebih kuat dari pada Pikiran Sadar (Conscious Mind).

Pikiran Sadar mempunyai 4 (empat) fungsi utama :

1. Mengidentifikasi informasi yang masuk kedalam pikiran (melalui panca indra).

2. Membandingkan informasi yang masuk dengan database yang berada di dalam Pikiran Bawah Sadar yang merupakan referensi, pengalaman dan informasi lain yang berkaitan.

3. Menganalisa yaitu membuat hipotesa-hipotesa atas informasi yang masuk berdasarkan hasil dari fungsi ke 2 yaitu membandingkan. Lalu dari hipotesa-hipotesa akan menghasilkan satu kesimpulan yang dirasa benar berdasarkan database yang dimiliki.

4. Memutuskan, setelah kesimpulan diambil maka segera Pikiran Sadar memutuskan respon atau tindakan apa yang diambil dan diberikan atas stimulus informasi yang masuk.




Sedangkan Pikiran Bawah Sadar mempunyai fungsi sebagai berikut :

Menyimpan suatu kebiasaan (yang baik, buruk ataupun reflek).

Menyimpan dan membangkitkan emosi yang merupakan respon atas hal-hal tertentu.

Sebagai memory jangka panjang dan bersifat (relatif) permanen. Bahkan memory yang sudah dilupakan oleh Pikiran Sadar masih tersimpan dan dapat dimunculkan kembali.

Sebagai penyimpan karakteristik individual atau kepribadian dalam kaitannya dengan relasi/hubungan terhadap orang lain/lingkungan.Sebagai sumber intuisi, perasaan yang terhadap sesuatu yang belum terjadi dan lebih bersifat spiritual dan/atau metafisik.

Sebagai sumber kreativitas sehingga kita mampu memiliki visi, pemikiran dan impian yang akan kita wujudkan.

Persepsi yaitu cara kita melihat orang lain dan lingkungan berdasarkan ’kacamata’ kita yang dipengaruhi oleh isi database yang kita miliki.

Tempat menyimpan belief atau sesuatu yang kita percayai dan yakini kebenarannya (menurut diri sendiri) dan juga tempat menyimpan Value atau sesuatu yang sangat bernilai atau penting.

Pikiran Bawah Sadar merupakan sumber emosi dan perasaan, sehingga emosi dan perasaan seringkali muncul mendadak dan begitu saja tanpa diketahui oleh Pikiran Sadar. Emosi dan perasaan adalah bentuk ekspresi Pikiran Bawah Sadar sebagai respon terhadap sesuatu.

Sebagai contoh tatkala kita berhubungan pertama kali dengan seseorang maka di bawah sadar kita sudah dapat merasakan apakah kita cocok atau kita tidak cocok, karena ketika kita berkenalan maka tidak saja Pikiran Sadar kita yang berkenalan tetapi masing-masing Pikiran Bawah Sadar akan saling berkomunikasi.

Pikiran dapat mempengaruhi fungsi organ tubuh. Misal Kekhawatiran akan meningkatkan produksi asam lambung, kemarahan akan merangsang kelenjar andrenal dan meningkatkan andrenalin dalam darah. Juga ada beberapa kondisi tubuh memburuk karena disebabkan oleh pikiran (psikosomatik). Para pakar kesehatan menyatakan bahwa lebih dari 75% sakit yang diderita manusia bersifat psikosomatis yaitu terganggunya fungsi organ yang disebabkan oleh reaksi sistim saraf karena pengaruh Pikiran Bawah Sadar. Pikiran dan tubuh saling mempengaruhi, apa yang terjadi dalam pikiran akan mempengaruhi tubuh demikian juga sebaliknya.

Kemampuan Pikiran Bawah Sadar terpisah dari Pikiran Sadar. Meskipun kedua pikiran tersebut bekerja secara paralel namun proses berpikir dan merespon terhadap sesuatu saling terpisah meskipun saling mempengaruhi. Pikiran Sadar berada pada ranah pengetahuan nyata (logika) sedangkan Pikiran Bawah Sadar lebih pada imajinasi dan intuisi. Apabila terjadi konflik atau ketidak sesuaian antara Pikiran Sadar (logika) dengan Pikiran Bawah Sadar (imajinasi) maka imajinasi selalu lebih kuat dan menang. Konflik terjadi apabila ada dua ide yang bertentangan membutuhkan respon secara bersama.

Sebagai contoh misal Anda diminta untuk bersepeda di lintasan baja tebal selebar 50 cm sepanjang 10 meter yang diletakkan di atas tanah, saya yakin Anda berani dan akan berhasil bersepeda melewati lintasan baja tersebut tanpa terpeleset ke tanah. Sekarang apabila lintasan baja yang sama diletakkan di antara dua atap bangunan berlantai lima dan Anda diminta untuk bersepeda diatasnya. Apa yang terjadi ? Anda takut ? tidak berani ? padahal secara logika lintasan baja tebal tersebut sangat tebal tidak mungkin patah dan juga cukup lebar untuk dilewati menggunakan sepeda. Anda sudah berhasil dengan mudah melewati tanpa terpeleset ke tanah. Tetapi imajinasi Anda tentang jatuh dari ketinggian membuat Anda ketakutan.

Pikiran Bawah Sadar adalah tempat penyimpanan informasi yang luas dan bersifat permanen. Apabila ada suatu informasi atau ide yang diterima pikiran, maka ide itu akan menetap di dalam Pikiran Bawah Sadar. Ide tersebut akan tetap berada di dalam Pikiran Bawah Sadar sampai ada ide baru yang diterima untuk dapat menggantikan ide lama. Semakin lama suatu ide menetap di Pikiran Bawah Sadar maka semakin besar melakukan perlawanan atau penolakan terhadap ide baru yang akan menggantikannya. Hal tersebut menunjukan betapa sulitnya kita merubah suatu kebiasaan dengan kebiasaan baru atau bahkan merubah suatu keyakinan dengan keyakinan baru.

Pikiran Bawah Sadar mengamati dan memberi respon terhadap sesuatu dengan sangat jujur, apa adanya. Pikiran Bawah Sadar tidak melakukan penilaian terhadap ide atau informasi, bias, prasangka, penghakiman, harapan, persepsi dan sebagainya adalah hasil kerja Pikiran Sadar. Pikiran Bawah Sadar menyerap dan mengerti realita berdasarkan database yang ada tanpa memberikan makna dan penjelasan yang rumit.

*Dikompilasi dari berbagai sumber.

Selasa, 04 Oktober 2016

Aqiqah Dalam Sudut Pandang Syari'at dan Hakikat



Dalam agama Islam terdapat tradisi upacara untuk merayakan kelahiran seorang bayi dalam suatu keluarga. Upacara itu dinamakan Aqiqah. Kata ”Aqiqah” berasal dari bahasa Arab. Secara etimologi, “Aqiqah” berarti “memutus”. Misalnya kalimat : ‘Aqqa walidayhi” artinya ”ia memutus (tali silaturahmi) keduanya”. Dalam istilah, ‘Aqiqah berarti menyembelih kambing pada hari ketujuh (dari kelahiran seorang bayi) sebagai ungkapan rasa syukur atas rahmat Allah SWT karena lahirnya seorang anak. Perayaan ini sebenarnya merupakan tradisi bangsa Arab pra Islam, yang kemudian diteruskan oleh Nabi Muhammad Saw dengan diadakan perubahan dalam tatacaranya.

”Diriwayatkan dari Abdullah Ibnu Buraidah yang telah mengatakan bahwa ia pernah mendengar ayahnya menceritakan hal berikut :

”Dahulu pada masa Jahiliyah apabila bayi seseorang diantara kami baru dilahirkan, kami menyembelih kambing dan melumurkan darah kambing itu ke kepala bayi. Setelah Allah menurunkan agama Islam maka kami diperintahkan menyembelih kambing dan mencukur rambutnya serta melumurinya dengan minyak zafaran” (HR Abu Dawud)

Dikalangan ulama Islam, terjadi perbedaan pendapat yang tajam tentang masalah Aqiqah ini. Ada ulama yang mewajibkan, ada yang menyarankan dan ada pula yang mengharamkan tradisi aqiqah ini, dengan berbagai argumentasinya masing-masing. Khusus di Indonesia yang mayoritas bermahzab Syafi’i, aqiqah merupakan tradisi yang sudah lama dilaksanakan sebagai sunnah dari Rasulullah Saw.

Hukum Aqiqah Secara Syari’at.

Hukum aqiqah itu adalah sama dengan ibadah qurban yaitu Sunat Muakkad kecuali jika sebelumnya dinazarkan, maka aqiqah itu menjadi wajib hukumnya bagi yang bersangkutan.

“Dari Samurah bin Jundab dia berkata : Rasulullah bersabda : “Semua anak bayi tergadaikan, maka lakukan aqiqah pada hari ketujuh dengan menyembelih hewan, diberi nama dan dicukur rambutnya.(HR Ibnu Majah, Abu Dawud, Tirmidzi)

”Aqiqah dilaksanakan karena kelahiran bayi, maka sembelihlah hewan dan hilangkanlah semua gangguan darinya”. (HR. Bukhari)

“Bayi laki-laki di aqiqahi dengan dua kambing yang sama dan bayi perempuan satu kambing”. (HR.Ahmad)

“Barangsiapa diantara kalian yang ingin menyembelih (kambing) karena kelahiran bayi maka hendaklah ia lakukan untuk laki-laki dua kambing yang sama (besarnya) dan untuk perempuan satu kambing. (HR. Abu Dawud)

“Cukurlah rambut dan bersedekahlah dengan perak kepada orang miskin seberat timbangan rambutnya”. (HR.Ahmad)

Daging Aqiqah

Daging aqiqah sebaiknya tidak disedekahkan dalam keadaan mentah, bahkan disunatkan supaya dimasak terlebih dahulu dengan sedikit rasa manis, walaupun aqiqah itu aqiqah nazar. Tujuannya ialah untuk bertafa’ul (menaruh harapan baik) agar kelak anak yang baru dilahirkan berakhlak yang baik. Kemudian daging yang telah dimasak itu diberikan kepada fakir miskin, dan juga dibagikan ke para tetangga atau bisa juga mengundang para tetangga untuk hadir dan menikmati hidangan di rumah yang beraqiqah. Namun yang lebih afdal adalah dibagikan ke rumah-rumah orang fakir miskin.

Sementara itu, sunat hukumnya bagi orang yang beraqiqah memakan sebahagian kecil dari daging hewan yang diaqiqahkan, sepanjang aqiqahnya itu bukan aqiqah wajib (aqiqah nazar) atau aqiqah karena wasiat. Dan pada waktu memotong daging disunatkan pula supaya tulang-belulang hewan itu jangan dipecah atau dihancurkan, bahkan disunatkan agar dipotong tulang-tulangnya mengikuti sendi-sendinya.

“Keutamaan bagi anak lelaki (dalam aqiqah) adalah dua ekor kambing yang sama keadaannya (besarnya) dan bagi anak perempuan seekor kambing. Dipotong anggota-anggota (binatang) dan jangan dipecah-pecah tulangnya.” (HR. Al Hakim)

Hal ini bertujuan untuk bertafa’ul (menaruh harapan baik) terhadap pertumbuhan tulang anak itu, agar nanti tidak pecah dan tidak patah sebagaimana tidak pecah dan tidak patahnya tulang-tulang hewan aqiqah itu.

Waktu Aqiqah

Aqiqah itu sebaiknya dilakukan pada waktu anak dilahirkan, sampai anak itu baligh. Ini adalah pendapat yang paling rajih. Apabila anak itu sudah baligh, gugurlah hukum itu dari walinya dan saat itulah hukum sunat berpindah ke anak itu sendiri dalam melakukan aqiqah untuk dirinya sendiri.Walaupun waktu yang disunatkan untuk beraqiqah itu panjang, tetapi yang lebih utama adalah dilakukan pada hari ketujuh dari hari kelahirannya.

“Rasulullah mengaqiqahkan Hasan dan Husain pada hari ke tujuh, memberikan kedua-duanya nama dan beliau menyuruh supaya menghilangkan dari keduanya gangguan di kepalanya (mencukur rambut kepala).” (HR. Al Hakim)

Syarat Syah Aqiqah

Syarat syah aqiqah adalah:


  • Berniat aqiqah ketika menyembelih.
  • Hewan yang akan disembelih adalah hewan ternak berkaki empat, seperti kambing, biri-biri, kibas, lembu, kerbau dan unta.
  • Memenuhi syarat-syarat pemotongan hewan.
  • Tidak ada kecacatan pada hewan tersebut
  • Disembelih pada waktunya yaitu hari ketujuh setelah kelahiran sampai sebelum anak tersebut baligh.
  • Hewan yang hendak disembelih sudah cukup umur.
  • Hewan yang sudah cukup umur untuk dijadikan Aqiqah adalah sebagai berikut : Binatang UmurBiri-biri/ 1 tahun atau lebih
  • Kambing 2 tahun atau lebih
  • Lembu/kenbau 2 tahun atau lebih
  • Unta 5 tahun atau lebih


Sunat-sunat Aqiqah adalah :


  • Dilakukan pada hari ke tujuh kelahiran
  • Menyembelih ketika matahari sedang naik (pagi)
  • Mencukur rambut bayi setelah penyembelihan hewan
  • Memberi nama yang baik kepada bayi
  • Berdoa ketika hendak menyembelih
  • Daging dimasak manis.
  • Tidak mematahkan sendi tulang binatang tersebut ketika dimasak.
  • Daging aqiqah disunatkan untuk jamuan.Hikmah Aqiqah
  • Sebagai ungkapan rasa syukur karena diberikan kekuatan oleh Allah S.WT untuk menjalankan syariat Islam dan juga tanda bersyukur karena telah dianugerahkan seorang anak.
  • Meningkatkan amal sedekah.
  • Sebagai tanda mengikuti sunnah Rasulullah Saw.
  • Mengukuhkan semangat persaudaraan dalam masyarakat sekitar.
  • Membuang sifat bakhil dan tamak dalam diri.
  • Memuliakan kehidupan seorang bayi dengan amalan yang baik
  • membiasakan berkorban bagi orang tua.

Aqiqah dalam pandangan Hakikat

Dalam pandangan hakikat, aqiqah mempunyai makna yang sangat dalam apabila di ta’wilkan secara hakikat. Menurut kaum sufi, setiap bayi yang lahir ke dunia ini mempunyai ”hutang” yang harus dilunasi kepada Allah, yaitu ia harus kembali mengulang syahadatnya kepada Allah ketika ia masih hidup di dunia. Hal ini sesuai dengan firman Allah yang diisyaratkan dalam Al Qur’an :

”Dan ingatlah ketika Tuhanmu menjadikan keturunan bani Adam dari tulang punggung mereka, dan Allah mengambil kesaksian atas diri mereka,”Bukankah Aku ini Tuhanmu ?”, Mereka menjawab ”Betul,kami menjadi saksi”. Yang demikian supaya kamu tidak mengatakan di hari Kebangkitan : ”Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang lalai dari peristiwa ini”. Atau agar kamu tidak mengatakan, ”Sesungguhnya bapak-bapak kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini hanyalah anak-anak keturunan yang datang sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat itu ?. Dan demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu dan supaya mereka kembali”. (QS Al A’raf 7 : 172)

Ketika ”hutang” itu sudah dilunasi selagi masih hidup di dunia maka ketika meninggal dunia, ia akan kembali kepada Allah. Tetapi, apabila ia tidak bisa melunasi hutang tersebut, maka ketika ia meninggal dunia, ia tidak bisa kembali kepada Allah dan ia akan dilahirkan kembali dengan membawa hutang tersebut.”Dan mereka berkata, ”Apakah bila kita telah menjadi tulang belulang dan berserakan, apakah kita akan dibangkitkan sebagai mahkluk baru ?”. Katakanlah, ”Jadilah kamu batu atau besi, atau menjadi mahkluk yang besar dalam dadamu”. Maka mereka akan bertanya, ”Siapakah yang akan mengembalikan kami”. Katakan, yaitu Yang Menciptakan kamu pertama kali”. Maka mereka akan menggelengkan kepala kepadamu dan bertanya, ”Bilakah itu ?’. Katakanlah, ”Mudah-mudahan itu terjadinya dekat”. (QS Al Isra’ 17 : 49-51)

Inilah yang dimaksud bahwa setiap bayi yang lahir di dunia tergadai aqiqahnya dan untuk menebusnya hanya ada satu cara, yaitu dengan menyembelih Empat Hawa Nafsu yang terdapat pada Tujuh Lubang Inderawinya, dengan metode ”Takbiratul Ihram” yang telah diajarkan oleh Nabi Muhammad Saw.”Dan sesungguhnya apabila Kami perintahkan kepada mereka, ”Bunuhlah anfusmu atau keluarlah kamu dari rumahmu”. Mereka tidak akan melakukannya kecuali sebagian kecil di antara mereka. Dan sesungguhnya kalau mereka mengerjakan apa yang diperintahkan kepada mereka, pasti lebih baik bagi mereka dan lebih meneguhkan ketetapan iman mereka”. (QS An Nisa 4 : 66)

”Sesungguhnya Kami akan memberikan kepadamu nikmat yang besar. Maka shalatlah untuk Tuhanmu dan sembelihlah hawa nafsumu”. (QS Al Kautsar 108 : 1-2)

Kesimpulan

Secara Syari’at ‘Aqiqah adalah prosesi menyembelih kambing pada hari ketujuh dari kelahiran seorang bayi, sebagai ungkapan rasa syukur atas rahmat Allah SWT karena lahirnya seorang anak.Secara hakekat ’Aqiqah adalah prosesi memutus jalannya aliran hawa nafsu yang ada dalam tujuh pintu inderawi, sehingga diri kita dapat kembali ”menebus” Syahadat kita yang telah tergadai.

Anakmu bukanlah

milikmu, mereka adalah

putra-putri kehidupan.

Mereka terlahir

melaluimu, tetapi bukan

berasal darimu, karena itu

mereka ada bersamamu

tapi bukanlah milikmu.

Engkau harus memberi

mereka cintamu, tetapi

bukan pemikiranmu,

karena mereka punya

pemikiran mereka sendiri.

Engkau bisa memberikan

rumah untuk tubuh

mereka, tetapi tidak

untuk jiwanya. Karena

jiwa mereka akan tinggal

di rumah masa depan,

yang tidak bisa kau

kunjungi, bahkan dalam

mimpimu sekalipun.

Engkau boleh mencoba

meniru mereka, tapi

jangan memaksa mereka

menirumu, karena

kehidupan tidak pernah

berjalan mundur, tidak

pula akan terulang.

Engkau adalah busur

panah, yang darinya

anak-anakmu akan

meluncur ke depan.

Sang pemanah

menarikmu dengan

keagungan-Nya agar anak

panah bisa melesat jauh

menuju keabadian.(Khalil Gibran)

Tidak Ada Kekhawatiran Bagi Orang Beriman

Suatu riwayat mengisahkan, ketika Nabi Muhammad SAW sedang duduk-duduk di rumahnya, saat Salman Al Farisi, sahabat dekatnya yang bukan dari etnis Arab, yang telah kenyang bongkar pasang agama dan cara memuja Tuhan sebelum akhirnya bertemu dengan Rasulullah dan memeluk Islam, datang mendekat. Lelaki cerdas yang selalu bertanya tentang segala hal dalam pikirannya itu sedang galau. Apalagi kalau bukan dikepung sebuah tanya. "Assalamu 'alaikum, yaa Rasulullah". "Wa 'alaikum salam".

Tak banyak basa-basi, ia langsung bercerita tentang orang-orang non muslim, yang percaya kepada Tuhan dan melakukan pekerjaan yang baik, (amalan shalih). Tapi itu tadi, mereka non muslim. "Akan bagaimanakah nasib mereka kelak, ya Rasulullah ?". Rasulullah menjawab : "Mereka akan mati dalam keadaan tidak Islam, kafir, dan mereka akan menjadi penghuni neraka". Salman sungguh sedih mendengar jawaban itu. Terbayang di benaknya, bagaimana teduhnya wajah- wajah orang yang percaya dan menyembah Tuhan itu, kepatuhan mereka kepada Tuhan, dan kasih sayangnya kepada sesama. Setelah pamit, dia melangkah. Makin gundah, tapi tak kuasa membantah utusan Allah.


Di belakangnya, tubuh Rasulullah sedikit bergetar. Malaikat Jibril, datang berkelebat, membawa kata-kata milik Sang Kebenaran Sejati. Firman Allah SWT yang kemudian tercatat dalam Al Qur'an, pada Surat Al Baqarah ayat 62 yang sungguh indah, meneduhkan hati.

إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَٱلَّذِينَ هَادُواْ وَٱلنَّصَـٰرَىٰ وَٱلصَّـٰبِـِٔينَ مَنۡ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأَخِرِ وَعَمِلَ صَـٰلِحً۬ا فَلَهُمۡ أَجۡرُهُمۡ عِندَ رَبِّهِمۡ وَلَا خَوۡفٌ عَلَيۡہِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ

"Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak pula mereka bersedih hati".

Rasulullah memanggil Salman, menyampaikan firman Tuhan yang baru saja turun itu, dan mengimbuhinya sembari tersenyum lembut, "Ayat itu untuk teman-temanmu".

Asbabun nuzul ayat ini menunjukkan kemuliaan dan kerendahan hati Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah.

Dalam tafsir Al Azhar, Buya Hamka mengatakan : “Inilah janjian yang adil dari Tuhan kepada seluruh manusia, tidak pandang dalam agama yang mana mereka hidup, atau merk apa yang diletakkan kepada diri mereka, namun mereka masing-masing akan mendapat ganjaran atau pahala di sisi Tuhan, sepadan dengan iman dan amal shalih yang telah mereka kerjakan itu. ‘Dan tidak ada ketakutan atas mereka dan tidaklah mereka akan berdukacita (ujung ayat 62), hlm.211.

Yang menarik, Hamka dengan santun menolak bahwa ayat telah dihapuskan (mansukh) oleh ayat 85 surat surat Ali ‘Imran yang artinya: “Dan barangsiapa yang mencari selain dari Islam menjadi agama, sekali-kali tidaklah tidaklah akan diterima daripadanya. Dan di Hari Akhirat akan termasuk orang-orang yang rugi.” (Hlm. 217). Alasan Hamka bahwa ayat ini tidak menghapuskan ayat 62 itu sebagai berikut: “Ayat ini bukanlah menghapuskan (nasikh) ayat yang sedang kita tafsirkan ini melainkan memperkuatnya. Sebab hakikat Islam ialah percaya kepada Allah dan Hari Akhirat. Percaya kepada Allah, artinya percaya kepada segala firmannya, segala Rasulnya dengan tidak terkecuali. Termasuk percaya kepada Nabi Muhammad s.a.w. dan hendaklah iman itu diikuti oleh amal yang shalih.” (Hlm 217).

“Kalau dikatakan bahwa ayat ini dinasikhkan oleh ayat 85 surat Ali ‘Imran itu, yang akan tumbuh ialah fanatik; mengakui diri Islam, walaupun tidak pernah mengamalkannya. Dan surga itu hanya dijamin untuk kita saja. Tetapi kalau kita pahamkan bahwa di antara kedua ayat ini adalah lengkap melengkapi, maka pintu da’wah senantiasa terbuka, dan kedudukan Islam tetap menjadi agama fitrah, tetap (tertulis tetapi) dalam kemurniannya, sesuai dengan jiwa asli manusia.” (Hlm. 217).

Tentang neraka, Hamka bertutur: “Dan neraka bukanlah lobang-lobang api yang disediakan di dunia ini bagi siapa yang tidak mau masuk Islam, sebagaimana yang disediakan oleh Dzi Nuwas Raja Yahudi di Yaman Selatan, yang memaksa penduduk Najran memeluk agama Yahudi, padahal mereka telah memegang agama Tauhid. Neraka adalah ancaman di Hari Akhirat esok, karena menolak kebenaran.” (Hlm. 218).

Sikap Hamka yang menolak bahwa ayat 62 Al-Baqarah dan ayat 69 Al-Maidah telah dimansukhkan oleh ayat 85 surat Ali ‘Imran, adalah sebuah keberanian seorang mufassir yang rindu melihat dunia ini aman untuk didiami oleh siapa saja, mengaku beragama atau tidak, asal saling menghormati dan saling menjaga pendirian masing-masing. Mungkin tidak ada Kitab Suci di muka bumi ini yang memiliki ayat toleransi seperti yang diajarkan Alquran. Pemaksaan dalam agama adalah sikap yang anti Alquran (lihat. Al-Baqarah ayat 256 dan Yunus ayat 99).

Memang tafsir lain banyak yang sependirian dengan Buya Hamka, tetapi keterangannya tidak seluas dan seberani yang Buya Hamka berikan. Kita berharap agar siapa pun akan menghormati otoritas Buya Hamka, sekalipun tidak sependirian.

Sejarah Perumusan Kalender Hijriah

Penanggalan Hijriyah yang banyak dikenal oleh kaum muslim itu adalah produk politik yang dikeluarkan semasa Sayyidina Umar menjabat khalifah. Dikatakan demikian karena memang motivasi terbentuknya penanggalan tersebut guna kelancaran system kenagaraan ketika itu.

Dalam kitabnya Fathul-Baari, Imam Ibnu Hajar al-Asqalani menyebutkan secara detail runutan kejadian lahirnya penanggalan hijriyah tersebut. Dan perlu diketahui bahwa nama-nama bulan dalam penanggalan hijriyah itu bukanlah wahyu, tapi justru bangsa Arab sejak zaman jahiliyah pun sudah memakai nama-nama itu; seperti Sya’ban, Ramadhan, Syawal dan yang lainnya.

Jadi, orang-orang sebelum Nabi lahir pun sudah mengenal nama Rabi’ al-Awwal dan juga Rabi’ al-Tsani atau juga Rajab serta Dzul-Hijjah. Intinya bahwa nama-nama itu telah ada dan dipakai oleh orang Jahiliyah. Jadi bukan hanya khusus orang Islam saja. Kecuali nama bulan Muharram, karena sejatinya itu adalah nama pemberian wahyu, bukan dari kebiasaan jahiliyah.


Imam Ibnu Hajar al-Asqalani menceritakan bahwa setelah 2 tahun setengah menjabat sebagai khalifah, tepatnya pada tahun ke 17 Hijrah, sayyidina Umar mendapat kiriman surat dari salah satu gubernurnya, yaitu Abu Musa al-Asy’ari yang mengadu kalau beliau kebingungan, karena banyak surat sayyidina Umar yang datang ke beliau tapi tidak ada tanggalnya.

Dalam rak gubernur terdapat banyak surat yang membuat beliau (Abu Musa al-Asy’ari) bingung untuk menentukan surat mana yang baru dan mana surat yang lama, mana perintah terbaru dan mana perintah sudah usang. Karena itu beliau menyarankan kepada sayyidina Umar untuk membuat sebuah penanggalan agar tidak terjadi lagi kebingungan di antara gubernur-gubernurnya.

Mendapat aduan dan tersebut, akhirnya sayydina Umar memanggil semua staf dan orang penting-nya untuk berdiskusi merumuskan dan memformulasikan sebuah penanggalan agar tidak lagi ada yang kebingungan. Selain itu juga, penanggalan pastinya, akan sangat membantu kinerja para staf dan gubernur serta masyarakat luas.

Setelah berdiskusi dan sepakat bahwa mereka harus memilik standarisasi penanggalan demi kemaslahatan, mereka berselisih dalam menentukan kapan tahun pertama itu dimulai dalam penanggalan mereka ? Ada yang mengusulkan tahun pertama dimulai di tahun Gajah, dimana Nabi lahir. Ada juga yang mengusulkan di tahun wafatnya Nabi. Dan tidak sedikit yang mengusulkan di tahun Nabi diangkat menjadi Rasul dimana wahyu pertama turun. Dan juga opsi di tahun hijrahnya Nabi ke Madinah.

Dari 4 opsi ini, akhirnya sayyidina Umar memutuskan untuk memulai tahun di tahun hijrahnya Nabi dari Mekkah ke Madinah atas usulan dan rekomendasi sayyidina Utsman dan juga sayyidina Ali. Beliau tidak memilih tahun kelahiran dan tahun diangkatnya Nabi menjadi Rasul karena memang ketika itu juga mereka masih berselisih tentang waktu kapan tepatnya Nabi lahir, dan kapan wahyu pertama turun.

Sedangkan tahun wafatnya, sayyidina Umar menolak menjadikannya permulaan tahun karena di tahun tersebut banyak kesedihan. Akhirnya beliau memilih tahun hijrahnya Nabi Saw, selain karena jelasnya waktu tersebut, hijrah juga dianggap menjadi pembeda antara yang haqq dan yang bathil ketika itu. Dan menjadi tonggak awal kejayaan umat Islam setelah sebelumnya hanya berdakwah secara sembunyi-sembunyi.

Karena itulah kalender ini dinamakan kalender Hijriyah, karena yang menjadi acuan awalnya ialah Hijrahnya Nabi Muhammad Saw. Padahal sejatinya orang-orang terdahulu menamakannya at-Taqwim al-Qamari (Kalender Bulan), dinamakan Qamar (bulan) karena hitungan harinya berdasarkan putaran bulan, dan itu yang dilakukan oleh para bangsa Arab sejak ratusan dekade.

Setelah bersepakat bahwa awal tahun itu terhitung sejak tahun Nabi Hijrah, perdebatan kembali memanas tentang bulan apakah yang menjadi awal bulan-bulan hijriyah ini?

Tentu saja ada yang menawarkan bulan Rabi’ al-Awwal sebagai bulan pertama tahun Hijriyah karena bulan itu ialah bulan Hijrahnya Rasul (tepatnya Rasul Saw memulai berangkat ke madinah sejak tanggal 27 shafar dan tiba di madinah tanggal 11 Rabi’ al-Awwal). Akan tetapi sayyidina Umar justru memilih bulan Muharram untuk jadi bulan pertama pada susunan tahun Hijriyah.

Selain karena rekomendasi sayyidina Utsman, beliau memilih Muharram dengan alasan bahwa hijrah walaupun terjadi di bulan Rabi’ al-Awwal, akan tetapi muqadimah (permulaan) Hijrah terjadi sejak di bulan Muharram. Beliau mengatakan bahwa wacana hijrah itu muncul setelah beberapa sahabat membaiat Nabi, dan Baiat itu terjadi di penghujung bulan dzul-hijjah, semangat baiat itulah yang mengantarkan kaum muslim untuk berhijrah. Dan bulan yang muncul setelah dzul-hijjah ialah bulan Muharram. Karena itu beliau memilih Muharram sebagai bulan pertama di tahun Hijriyah.

Yang perlu diketahui bahwa memang nama-nama bulan pada kalender Hijriyah itu bukanlah wahyu yang turun kepada umat Islam. Justru nama-nama itu telah ada sebelumnya dan digunakan berabad-abad lamanya oleh bangsa Arab. Hanya nama Muharam yang bersumber dari wahyu.

Mereka terbiasa menggunakan bulan sebagai media untuk menentukan waktu karena itu penaggalan mereka disebut dengan al-Taqwim al-Qamari (kalender Bulan), karena memang basis perhitungannya bergantung pada bulan. Walaupun ada beberapa suku, khususnya di selatan Jazirah Arab (Yaman) yang menggunakan matahari sebagai media menentukan hari.

Kemudian, nama-nama bulan mereka memberi nama sesuai dengan keadaan alam atau keadaan sosiologi dan budaya yang mereka lakukan pada bulan-bulan tersebut. Hanya nama bulan muharram saja yang bukan warisan dari jahiliyah; ia merupakan nama yang bersumber dari wahyu lewat lisan Nabi Saw.

Orang Jahiliyah dulu tidak mengenal nama Muharram/tidak ada nama muharram dalam penaggalan mereka. Mereka hanya tahu Shafar al-Awwal, ini nama sebelum adanya nama Muharram. Nama Muharram itu muncul setelah adanya wahyu dari Allah melalui lisan Nabi Saw. yang mana ketika itu Nabi Saw menjelaskan tentang puasa sunnah terbaik setelah puasa Ramadhan, beliau katakana : “Syahrullah al-Muharram”, yakni : bulannya Allah, bulan Muharram. Setelah muncul hadits ini kemudian nama muharram menjadi popular di kalangan umat Islam.

*Dikompilasi dari berbagai sumber.

Senin, 03 Oktober 2016

Kema'rifatan Nabi ISA Al-Masih


Dalam Injil dikisahkan tentang proses perjalanan Nabi Isa Al Masih dalam mencapai Pencerahan Rohani, yaitu ketika ia di baptis oleh Yohanes dengan cara ditengelamkan ke dalam sungai Yordan. Kisah ini diabadikan dalam Injil.

“Pada waktu itu datanglah Yesus dari Nazaret di tanah Galilea, dan dibaptis di sungai Yordan oleh Yohanes. Pada saat itu ia ditenggelamkan dalam air, ia melihat Langit terdekat terkoyak dan Roh Kudus seperti burung merpati putih turun di atas kepalanya. (Injil, Markus 1 : 9 – 10)

Di dalam Injil juga dijelaskan secara simbolis metode Pencerahan Rohani yang dipraktekan oleh Nabi Isa dan para pengikutnya :

“Apabila kamu hendak bersembahyang, masuklah ke kamar dalammu dan pintu-pintumu hendaknya dikunci, bersembahlah kepada Tuhanmu yang terlihat dan tersembunyi itu, kepadamu akan meluluskan (mensyahkan sembayangmu)”. (Injil, Matius 6 : 6)

“Tatkala mereka turun dari atas “Gunung” itu berpesanlah Yesus kepada mereka (para pewarisnya yang baru dibaptis) : Janganlah kamu mengatakan “Penglihatannmu” itu kepada seorang juapun sebelum manusia itu bangkit dari mati”. (Injil Matius 17 : 6)

“Yesus berkata : “Sesungguhnya aku berkata kepadamu, kalau kamu tiada berbalik seperti “bayi”, sekali-kali tiada kamu mampu masuk ke dalam Kerajaan Allah”. (Injil, Matius 18 : 3)

Sampai saat ini, di dalam ajaran Kristiani terdapat metode Pencerahan Rohani yang disebut Pembaptisan (dalam Islam disimbolkan dengan teknik "Shibghatullah" = "Celupan Allah" ) dengan cara diselamkan ke dalam kolam yang berisi air, yang dibimbing oleh seorang Pendeta di dalam sebuah gereja.

Di dalam Al Qur’an juga dikisahkan secara simbolis proses Pencerahan Rohani dari seorang wanita Suci yang bernama Siti Maryam ibu kandung dari Nabi Isa Al Masih :

Dan tersebutlah kisah Maryam di dalam Al Qur’an, yaitu ketika menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebalah Timur”. (QS Maryam 19 : 16)

“Ketika akan melahirkan kandungannya ia merasa sakit dan memaksa ia bersandar pada Pangkal Pohon Korma, ia berkata : “Alangkah baiknya jika aku dapat mati saat ini sehingga aku dapat melupakan dan dilupakan seperti barang yang tidak berarti”.

“Maka Jibril menyerunya dari tempat rendah : “Jangalah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu akan menjadikan Anak Sungai di bawahmu”.

“Dan dekatkanlah pangkal Pohon Korma itu ke arah mukamu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah korma yang masak kepadamu”.

“Maka makanlah dan minumlah dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu bertemu dengan seorang manusia (dan bertanya tentang hal ini), katakanlah : “Sesungguhnya, aku telah berjanji kepada Tuhan Yang Maha Pemurah untuk berpuasa serta tidak akan berbicara pada hari ini dengan seorang manusiapun”. (QS Maryam 19 : 23 – 26).

Demikianlah kisah nabi Isa Al Masih dan Siti Maryam dalam mendapatkan pengalaman Pencerahan Rohani menemui Cahaya Allah yang diabadikan dalam Al Qur’an dan Injil yang difirmankan dalam bentuk kalimat Mutasyabihat. Oleh para Sahabat Nabi Isa Al Masih, ayat-ayat tersebut kemudian di visualisasikan dalam Simbol Yesus Yang Sedang Di Salib, yang hakekatnya merupakan perlambang orang yang menjalani metode Mati Dalam Hidup, dimana dia harus "menyalib" dirinya sendiri. Yang di salib itu adalah 4 nafsu, yaitu :

1. Amarah, yang bersumber di dua lubang telinga.
2. Lawamah, yang bersumber di satu lubang mulut.
3. Sufiah, yang bersumber di dua lubang mata.
4. Mutmainah, bersumber di dua lubang hidung.

Berikut ini penggambaran Penyaliban Yesus, yang dikaitkan dengan proses pengendalian Hawa Nafsu untuk mencapai Pencerahan Ruhani oleh Nur Ilahi :

1. Kaki Yesus di salib dimana terlihat bahwa kaki Yesus dipaku sampai tembus ke kayu salib, ini bermakna nafsu Lauwamah, posisi paling rendah, sebuah nafsu yang cenderung ke arah hewaniyah, mengajak manusia untuk berbuat buruk, serakah, tamak, dan loba. Bila ingin menuju Ilahiah, nafsu ini wajib dipaku atau dikendalikan (bukan dibunuh).

2. Tangan kiri yesus di salib, dimana terlihat tangan kiri Yesus yang dipaku diatas kayu salib merupakan perlambang nafsu Amarah, nafsu yang mengajak manusia untuk bersifat iri dan dengki, yang dapat memacu manusia untuk mencari gemerlap dunia dan kekayaan tanpa aturan. Jika nafsu ini berlebihan dan tidak dikendalikan maka manusia akan menjadi serakah. Jadi nafsu ini wajib "dipaku" juga.

3. Tangan kanan Yesus disalib, dimana terlihat tangan kanan Yesus yang dipaku, hal ini merupakan perlambang nafsu Sufiah. Nafsu yang mengajak manusia untuk mencintai dan dicintai, menghormati dan dihormati, berkuasa dan lain-lain. Jika nafsu ini berlebihan dan tidak dikendalikan maka dapat memacu manusia untuk bersifat serakah, dan melupakan Tuhannya. Jadi nafsu ini juga harus dipaku.

4. Kepala Yesus, dimana terlihat bahwa kepala Yesus tidak dipaku, inilah perlambang Nafsu Mutmainah, nafsu yang bersifat tenang dan mengajak manusia untuk ingat kepada Tuhannya dan selalu rindu untuk Liqa' Allah, sehingga dilambangkan Kepala Yesus yang tidak dipaku. Nafsu Mutmainah adalah Nafsu yang dapat memimpin ketiga nafsu lainnya, yaitu Amarah, Lawamah dan Sufiah, agar terarah ke Jalan Menuju Allah.

5. Duri di kepala Yesus, hal ini merupakan perlambang, bahwa Ilmu Makrifat atau Ilmu Ruhaniah, itu tidak hanya mengandalkan akal saja. Kata Akal berasal dari kata serapan bahasa Arab, yaitu kata "Iqal" yang artinya mengikat atau belenggu. Jadi akal adalah ikatan dari tiga daya Cipta, Rasa dan Karsa. Dalam mengenal Allah jangan hanya mengandalkan akal saja, karena ketiganya mempunyai keterbatasan. Akal tidak akan dapat memahami masalah Ilahiah. Keterbatasan akal ini, digambarkan dengan tali duri yang mengikat kepala. Tegasnya, akal harus diikat dengan duri. Dalam memahami masalah Ketuhanan, kita harus menggunakan Kemampuan Rahsa Rohani.

6. "Cahaya" bersinar dikepala Yesus yang juga membias sampai dada Yesus merupakan perlambang Qolbu atau Thur Sin Yang Sudah Tercerahi Oleh Cahaya Ilahi.

"Hai Isa, sesungguhnya Aku akan mewafatkanmu, dan mengangkatmu kepada-Ku..." (QS 3 : 55)

"Dan keselamatan atasnya pada hari dia dilahirkan, pada hari dia diwafatkan dan pada hari di dibangkitkan hidup kembali" (QS 19 : 15)

"Apakah orang-orang yang sudah mati (dalam hidup) kemudian Kami membangkitkannya hidup kembali, dan Kami berikan kepadanya Cahaya, yang dengan Cahaya itu dia dapat berjalan-jalan di tengah manusia, sama dengan orang yang dalam Kegelapan, yang tidak dapat keluar dari Kegelapan tersebut ? Demikianlah orang-orang Tertutup itu memandang baik apa yang mereka kerjakan" (QS Al An'am 6 : 122)

"Tubuh itu seperti Maryam, dan masing-masing diri kita mempunyai Isa di dalam.
Apabila derita (karena cinta) muncul dalam diri kita,
Isa akan lahir"

(Jalaluddin Ar Rumi, dalam Kitab Fihi ma fihi)

"Cahaya Allah itu berada dalam rumah, yang dizinkan oleh Allah untuk di luhurkan, yang di sana diingat Nama-Nya, di sana juga (orang) memahasucikan Dia pada pagi dan petang hari" (QS 24 : 36)

"Cahaya Allah itu berada dalam rumah, yang dizinkan oleh Allah untuk di luhurkan, yang di sana diingat Nama-Nya, di sana juga (orang) memahasucikan Dia pada pagi dan petang hari" (QS 24 : 36)

Minggu, 02 Oktober 2016

Membaca Tanda-Tanda Kematian

Setiap manusia yang dilahirkan didunia ini, cepat atau lambat pasti akan mengalami suatu proses berpisahnya ruh dengan jasad. Dalam bahasa agama, proses tersebut dinamakan proses kematian. Sedangkan dalam bahasa kaum sufi, proses terbut diistilahkan dengan nama “kebangkitan ruh dari jasad”.

Mayoritas umat Islam di Indonesia sering menamakan peristiwa kematian tersebut dengan istilah “meninggal dunia”, dimana seorang yang meninggal dunia akan meninggalkan segala apa yang dimilikinya, baik istrinya, suaminya, anaknya, orang tuanya, kekasihnya, pekerjaannya, jabatannya, hartanya, maupun keinginan dan cita-citanya serta rencana-rencananya dimasa depan. Dalam ajaran Islam, proses terjadinya kematian ini juga dikategorikan sebagai kiyamat kecil atau Qiyamat Sugro.

Kapan terjadinya dan bagaimana terjadinya proses kematian tersebut, hanya Allah-lah yang mengetahui rahasianya, sesuai dengan firman-Nya dalam Al Qur’an :

Manusia bertanya kepadamu kapan terjadinya hari Kebangkitan (ruh dari jasad), katakanlah :

“Sesungguhnya pengetahuan tentang hari Kebangkitan (ruh dari jasad) itu hanya disisi Allah. Dan tahukah kamu, boleh jadi hari berbangkit itu sudah dekat waktunya”. (QS Al Ahzab 33 : 63)

“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang kebangkitan (ruh dari jasad)……….”. (QS Luqman 31 : 34)

“Allah menciptakan kamu, kemudian mewafatkan kamu…….. “. (QS An Nahl 16 : 70)

Berdasarkan ayat tersebut sangat terlihat jelas bahwa pengetahuan tentang kapan terjadinya hari kebangkitan ruh dari jasad seseorang (Qiyamat Sugro) hanya Allah sajalah yang mengetahuinya. Oleh sebab itu sebagai seorang muslim diwajibkan untuk mempersiapkan diri baik lahir maupun batin untuk menghadapi dan menyikapi proses kematian tersebut dengan arif dan bijaksana, bahkan Allah telah menganjurkan agar kita selalu berdoa supaya mendapatkan mati yang baik (husnul khotimah) :

“Dan katakanlah : “Ya, Tuhanku, masukkanlah (ruhku ke dalam jasadku) secara benar, dan keluarkanlah aku (ruhku dari jasadku) secara benar dan berikanlah kapadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong”. (QS Al Isra’ 17 : 80)


 Dalam Al Qur’an, Allah juga menjelaskan bahwa orang-orang yang beriman (yang sudah ma’rifatullah) akan diberitahukan tanda-tanda datangnya kematian yang akan menimpa dirinya bahkan tanda-tanda kematian itu sebenarnya dapat juga dibaca oleh saudara-saudara seimannya.

“Diwajibkan atas kamu apabila seorang diantara kamu kedatangan (melihat atau membaca) tanda-tanda kematian maka berwasiatlah kepada bapak, ibu dan saudara-saudara dekatnya, jika ia meninggalkan harta atau peninggalan yang banyak. Ini adalah kewajiban atas orang-orang yang bertaqwa”. (QS Al Baqarah 2 : 180)

“Dan orang-orang yang akan meninggalkan dunia diantaramu dan meninggalkan istri-istrinya hendaklah ia berwasiat untuk istri-istrinya ……….. “. (QS Al Baqarah 2 : 240)

Dalam sebuah hadits, juga telah diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad Saw telah mengetahui tanda-tanda kematian yang akan menimpa diri beliau sehingga beliau berwasiat kepada umat Islam tetapi sayangnya wasiat tersebut gagal untuk dicatat oleh sahabat.

“Dari Abi Sa’id Al Khudri , katanya: “ Rasulullah Saw, berkhutbah : “ Sesungguhnya Allah Swt menyuruh pilih kepada hamba-Nya antara dunia dan akhirat. Maka dipilihnya akhirat. Lalu Abu Bakar menangis. Aku berkata pada diriku sendiri, “Kenapa orang tua ini menangis , jika Allah Swt menyuruh pilih kepada salah seorang hamba-Nya antara dunia dan akhirat, lalu dipilih akhirat. Padahal yang dimaksud dengan hamba Allah itu adalah Rasulullah Saw sendiri. Sedangkan Abu Bakar adalah orang yang lebih tahu di antara kami. Sabda Rasulullah Saw : “Hai, Abu Bakar! Jangan menangis! Sesungguhnya orang yang paling dekat kepadaku persahabatan dan hartanya adalah Abu Bakar. Andai aku boleh memilih teman di antara umatku, maka akan kupilih Abu Bakar. Tetapi persaudaran dan kecintaan dalam Islam cukup memadai. Tidak satupun pintu didalam masjid yang terbuka, melainkan semuanya tertutup, kecuali pintu Abu Bakar”. (HR Bukhari)

“Ibnu Abbas berkata : “Ketika nabi bertambah keras sakitnya, beliau berkata : “Bawalah kemari kertas supaya kamu dapat menuliskan sesuatu agar kamu tidak lupa nanti”. Kata Umar bin Khathab : “Sakit Nabi bertambah keras. Kita telah mempunyai Kitabullah, cukuplah itu!”. Para sahabat yang hadir ketika itu berselisih pendapat dan menyebabkan terjadinya suara gaduh. Berkata Nabi : “Saya harap anda semua pergi! Tidak pantas anda bertengkar di dekatku”. Ibnu Abbas lalu keluar dan berkata : ”Alangkah malangnya, terhalang mencatat sesuatu dari Rasulullah”. (HR Bukhari)

Dari hadits tersebut, terlihat bahwa sebelum Nabi Muhammad Saw wafat, beliau sudah dibertahu oleh Allah kapan beliau akan meninggalkan dunia, bahkan beliau masih diberi kesempatan oleh Allah untuk memilih apakah tetap hidup didunia atau kembali kepada Allah, dan beliau memilih untuk kembali kepada Allah dengan meninggalkan dunia dengan segala isinya. Kemudian beliau juga hendak membacakan wasiatnya kepada umat Islam yang akan ditinggalkannya, akan tetapi pembacaan wasiat beliau tersebut tidak jadi dilaksanakan.

Padahal isi wasiat tersebut sangat penting sekali, yang berkaitan dengan masalah suksesi kepemimpinan jika beliau meninggal dunia. Akibat dari gagalnya pembacaan wasiat tersebut akhirnya umat Islam terpecah belah dalam memperebutkan jabatan Khalifah sehingga menyebabkan tiga Khalifah terbunuh dalam perebutan jabatan tersebut. Hal ini sudah diprediksi oleh Nabi Muhammad Saw :

Syaqiq bercerita, katanya : “Aku mendengar Hudzaifah berkata, pada suatu hari ketika kami duduk dekat Umar. Dia berkata : “Siapakah di antara anda semua yang masih ingat sabda Rasulullah Saw tentang fitnah ?”. Jawabku : “Aku! Aku masih ingat, tepat sebagaimana yang beliau sabdakan”. Kata Umar : “Anda tidak sangsi? Betulkah itu?”. Jawabku : “Fitnah (kesalahan) seorang laki-laki dalam keluarganya, hartanya, anaknya dan tetangganya dihapuskan oleh shalat, puasa sedekah dan oleh amar ma’ruf serta nahi mungkar”. Kata Umar : “Bukan itu yang aku maksudkan. Tetapi fitnah yang menggelombang seperti gelombang laut”. Jawab Hudzaifah : “Ya, Amirul Mu’mini ! Anda tidak usah gelisah mengenai hal itu. Karena antara anda dan fitnah itu ada pintu yang terkunci rapat”. Kata Umar : “Apakah pintu itu dipecah atau dibuka orang?”. Jawab Hudzaifah : “Akan pecah”. Kata Umar : “Kalau sudah pecah, tentu tak dapat dikunci lagi untuk selama-lamanya”. Kami (Syaqiq dkk) bertanya kepada Hudzaifah : “Apakah Umar tahu pintu itu?”. Jawab Hudzaifah : “Ya, dia tahu sebagaimana dia tahu bahwa malam ini terjadi sebelum besok pagi. Dan aku telah menceritakan kepadanyta hadits yang tidak mengandung kesalahan”. Kata Syaqiq : “Kami takut akan bertanya lagi kepada Hudzaifah perihal pintu itu, maka kami suruh Masruq bertanya. Jawab Hudzaifah : “Pintu itu adalah Umar sendiri”. (HR Bukhari)

Disinilah pentingnya sebuah wasiat yang harus diwasiatkan oleh orang yang telah melihat datangnya tanda-tanda kematian dirinya, kepada keluarga yang akan ditinggalkannya. Terbacanya tanda-tanda kematian tergantung dari tingkat keimanan seseorang kepada Allah Swt. Semakin tinggi tingkat keimanan seseorang kepada Allah Swt, maka semakin jelas tanda-tanda kematian itu terbaca olehnya. Tetapi sebaliknya, semakin rendah tingkat keimanan seseorang kepada Allah Swt maka semakin tidak jelas bahkan bisa jadi tidak terbaca tanda-tanda kematian yang akan datang kepadanya. Oleh sebab itu kita sebagai orang yang telah beriman diwajibkan untuk memlihara tingkat keimanan kita, agar terus berevolusi mencapai tingkat yang tak terbatas, dengan cara :

1. Membaca ayat-ayat ketuhanan, baik dalam Al Qur’an dan Hadits maupun yang terdapat dalam buku-buku agama.
2. Berdiskusi dengan saudara-saudara seiman, baik secara langsung maupun secara tidak langsung.
3. Banyak berkunjung ke Baitullah untuk bertemu dengan Allah.

Apabila tiga cara tersebut dilaksanakan dengan baik Insya Allah tanda-tanda datangnya kematian pada diri kita, dapat dibaca atau dilihat dengan jelas satu tahun sebelum kita meninggal dunia. Bahkan proses kematian yang akan dialami oleh seorang yang sudah ma’rifatullah dapat ditangguhkan atau ditunda beberapa tahun tergantung dari keinginan orang tersebut yang tentunya hal tersebut terkait dengan ijin Allah Swt, kekuatan jasad dan kesucian ruhani serta bantuan doa dari saudara-saudara seimannya.

“Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan ijin Allah sebagai ketetapan yang tertentu waktunya. Barang siapa yang menghendaki kebahagiaan dunia niscaya Kami berikan kepadanya. Dan barang siapa menghendaki kebahagiaan Akhirat, niscaya Kami berikan kepadanya. Dan Kami akan memberikan balasan kepada orang-orang yang bersyukur”. (QS Ali Imran 3 : 145)

Allah memang tidak menjelaskan secara terperinci tentang tanda-tanda datangnya proses kematian serta bagaimana rasa dan pengalaman disaat datangnya kematian. Tetapi para ahli ma’rifatullah telah menyusun berbagai buku dan keterangan yang berkaitan dengan hal tersebut. Dan penyusunan buku-buku dan keterangan tentang tanda-tanda kematian dan pengalaman mati, tentunya berdasarkan kepada Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah Saw serta renungan Ilham dan petunjuk dari Allah Swt.

Kyai Ageng Usman Efendi Nitiprayitna DW, adalah pewaris ilmu Tasawuf generasi ke sembilan dari Sunan Kudus. Beliau adalah salah satu Ulama Tasawuf yang berhasil menyusun tanda-tanda kematian yang bisa diketahui satu tahun sebelum seseorang meninggal dunia.

Berikut tanda-tanda kematian yang dapat dikenali satu tahun sebelum berpisahnya Roh dan Jasad (Qiamat Sugro) :

1. 12 Bulan sebelum kematian menjemput, akan mendengar suara-suara aneh yang belum pernah didengar dan suara tersebut lain dengan suara yang ada didunia.

2. 9 Bulan sebelum kematian menjemput, tiba-tiba melihat sinar matahari bersinar hitam.

3. 6 Bulan sebelum kematian menjemput, tiba-tiba melihat air berwarna merah (kemerah-merahan). Sedangkan apai tampaknya berwarna hitam.

4. 100 Hari sebelum kematian menjemput, sekonyong-konyong di depan mata tampak seperti terbentang laut yang luas, dimana seolah-olah ada sesuatu yang berwarna putih terlentang, sehingga kelihatan mayat dipocong-pocong dan dibungkus.

5. 80 Hari sebelum kematian menjemput, apabial menopang tangan di atas kening sendiri lengan tangan dihadapana, ia tidak akan melihat lengan tangannya.

6. 70 Hari sebelum kematian menjemput, tidak dapat menggerakkan jari manisnya dengan leluasa sebagaimana mestinya.

7. 60 Hari sebelum kematian menjemput, tiba-tiba akan melihat bahwa matahari tampaknya seolah-olah kaca cermin yang didalamnya terdapat bayangan diri pribadi sendiri berupa wajahnya sendiri.

8. 50 Hari sebelum kematian menjemput, tiba-tiba melihat sejenis cahaya luar biasa indah gemilang, tetapi sekejap menghilang.

9. 40 Hari sebelum kematian menjemput, kuping akan berdengung terus menerus.

10. 30 Hari sebelum kematian menjemput, perasaan kadang-kadang kosong dan hampir tidak ingat apa-apa.

11. 20 Hari sebelum kematian menjemput, dimata seperti ada yang bergerak terus menerus.

12. 7 Hari sebelum kematian menjemput, langit-langit mulut apabila dijilat dengan ujung lidah tidak terasa geli.

13. 3 Hari sebelum kematian menjemput, mendengar suara gaduh dan kadang-kadang mendengar suara tangis bayi yang baru lahir.

14. 24 Jam sebelum kematian menjemput, nafas yang keluar dari hidung terasa sangat dingin, sedang lidah terasa panas. Hidung menjadi kuncup. Denyut yang ada pada kedua kaki semakin hilang dan denyut bagian dada bergetar hebat.

15. 3 Jam sebelum kematian menjemput, jalan nafas mulai berkurang, karena sebagian nafasnya mulai berkumpul dengan suatu angan-angan untuk dibawa pulang bersama Nur Muhammad menyatu dengan Nur Allah.

Wahai Jiwa yang tenang

Kembalilah kepada Tuhanmu

dengan ridho dan diridhoi

Masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku

Dan masuklah ke dalam Nurul Jannah-Ku

(QS Al Fajr 89 : 27-30)

Sabtu, 01 Oktober 2016

Selamat Berhijrah dari Zhulmani Menuju ke Nurani

Hakekat Hijrah Sosial dan Spiritual*

Hijrah Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya dari Makkah ke Madinah merupakan peristiwa historis yang sangat bermakna bagi umat Islam. Hijrah menandai babak baru sekaligus titik balik perjuangan iman menuju terwujudnya peradaban Islam yang bervisi rahmatan lil 'alamin. Berdasarkan peristiwa hijrah, Umar bin al-Khattab menetapkan kalender Islam yang berlaku hingga kini, yaitu kalender hijriyah.

Secara bahasa, hijrah berarti meninggalkan, berpindah atau bermigrasi secara fisik maupun nonfisik. Berpindah menunjukkan adanya dinamika, transformasi, dan perubahan. Manusia memang ditakdirkan Allah SWT menjadi makhluk yang harus berhijrah karena perbaikan kualitas hidup menuntut transformasi mental spiritual, yaitu menghijrahkan hati dan pikiran, dari hati dan pikiran (mindset) jahiliyah (kebiadaban, kesewenang-wenangan, kezaliman, dan kebobrokan moral) menuju hati dan pikiran yang diterangi cahaya iman, Islam, ihsan, dan ilmu sehingga membuahkan amal saleh, amal kemanusiaan yang memberi nilai tambah bagi peningkatan kualitas kehidupan.

Di antara ayat Alquran yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi SAW pada masa awal kenabiannya adalah perintah hijrah dari perbuatan dosa. "Dan hendaklah engkau hijrah (tinggalkan) dosa besar." (QS al-Mudatstsir [74]: 5).

Meninggalkan dosa merupakan pangkal hijrah mental spiritual karena jika dosa sudah ditinggalkan berarti hati dan pikirannya akan senantiasa didasari akidah (tauhid) yang benar, dipandu oleh syariah yang jelas, dan dihiasi akhlak mulia. Jika dosa-dosa sudah dihijrahi, perubahan menuju kebenaran, kebaikan, kemuliaan, dan kemasalahatan akan menjadi orientasi kehidupan.

Pada malam hijrah ke Madinah, Abu Jahal dan komplotannya telah merencanakan menangkap hidup-hidup atau membunuh Muhammad. Berdasarkan hasil "permufakan jahat" di Darun Nadwah--tempat berkumpulnya para petinggi Quraisy, di dekat pintu Darun Nadwah Masjidil Haram sekarang--Abu Jahal mengerahkan ratusan pasukan pemburu dan penyergap untuk mengepung rumah Nabi SAW. Rencana jahat itu disampaikan malaikat Jibril AS kepada Nabi SAW agar pada malam hijrah itu Ali bin Abi Thalib RA menempati tempat tidur Nabi SAW dan beliau diizinkan untuk berhijrah.

Kata Nabi kepada Ali, "Tidurlah di atas ranjangku, dan berselimutlah dengan selimutku yang berwarna hijau ini!" Pada saat itu, Allah juga menurunkan ayat kepada Nabi SAW. (QS al-Anfal [8]:30).

Ketika menerima ayat ini, Nabi SAW sama sekali tidak panik. Di saat itu, Allah menurunkan mukjizat-Nya. Semua pasukan penyerbu itu tertidur lelap sehingga tidak mengetahui keluarnya Nabi SAW. (QS Yasin [36]: 9).

Beliau meninggalkan kota kelahirannya (Makkah) menuju Yatsrib (Madinah) dengan transit tiga hari di dalam Gua Tsur, sekitar tujuh kilometer arah selatan Makkah, padahal Madinah itu berlokasi di utara Makkah. Ini salah satu bentuk kecerdasan strategis Nabi SAW dalam membaca pergerakan lawan dan memenangi "pertarungan taktis".

Dengan transit beliau dapat melakukan apa yang dalam bahasa militer disebut "operasi intelijen". Melalui Asma' binti Abu Bakar dan Abdullah bin Abu Bakar, beliau mendapat informasi pergerakan musuh, sekaligus pasokan logistik karena perjalanan yang akan ditempuh menuju Madinah masih jauh, sekitar 454 kilometer dari Makkah, sementara alat transportasi hanyalah unta dan kuda atau berjalan kaki.

Nabi SAW berhijrah tidak untuk melarikan diri, tetapi menyelamatkan visi dan misi Islam sebagai rahmat untuk semua. Pesan moral hijrah adalah penguatan mental spiritual dengan memurnikan tauhid kepada Allah. Selama prosesi hijrah, Nabi SAW menampilkan figur teladan dalam mengawal dan menyelamatkan visi dan misi suci Islam dengan penuh amanah dan kecerdasan intelektual, emosional, ataupun spiritual.

Sejumlah gagasan besar dan langkah strategis diambil Nabi SAW begitu sampai di Yatsrib. Pertama, mendirikan masjid Quba' dan Masjid Nabawi. Masjid bukan sekadar tempat ibadah dan dakwah, melainkan juga dioptimalkan fungsinya sebagai pusat pendidikan, pusat konsolidasi, spiritualisasi, pemersatuan umat (kaum Muhajirin dan Anshar), dan pembangunan peradaban kemanusiaan.

Bahkan di saat peperangan, masjid juga sebagai latihan bela diri dan militer, perencanaan strategi perang, perawatan korban luka, dan penyiapan logistik. Trilogi integrasi masjid, pasar (baca: pusat-pusat ekonomi dan perdagangan), dan istana (baca: pusat kekuasaan) yang mewarnai dunia Islam, seperti Masjidil Haram, istana raja, pusat-pusat perekomian dan perdagangan di sekitarnya, Blue Mosque, Grand Bazar, dan Istana Ottoman di Turki, Masjid, Keraton, Alun-alun dan Malioboro di Yogyakarta, merupakan aktualisasi fungsi multidimensi masjid.

Kedua, deklarasi rekonsiliasi dua suku besar Madinah yang selama ini terlibat konflik sosial berkepanjangan, yaitu suku Aus dan Khazraj. Nabi tidak hanya berhasil mendamaikan dua kubu, juga sukses mempersaudarakan mereka dengan kaum muhajirin (para sahabat Nabi yang berhijrah dari Makkah).

Nabi SAW juga menggalang persatuan dan persaudaraan umat beragama dengan menyiapkan Piagam Madinah yang berisi perjanjian hidup bersama secara damai, rukun, dan saling menghargai perbedaan agama antara umat Islam dan non-Muslim, seperti Yahudi dan Nashrani (Kristen). Piagam Madinah ini merupakan dokumen kontrak sosial politik dan kemanusiaan pertama yang luar biasa berharga bagi masa depan umat manusia.

Ketiga, penegakan supremasi hukum yang benar dan adil melalui pemerintahan yang amanah, bersih, berwibawa, adil, sejahtera, dan bermartabat. Hukum ditegakkan, tidak membela yang bayar, tetapi membela yang benar. Nabi SAW menegaskan, "Seandainya Fatimah putri Muhammad mencuri, aku sendirilah yang akan memotong tangannya!" Penegakan hukum oleh Nabi SAW terbukti memberikan rasa aman, kepastian, dan keadilan hukum bagi semua, tanpa diskriminasi dan kriminalisasi.

Keempat, perubahan nama kota dari Yatsrib menjadi al-Madinah al-Munawwarah (kota berperadaban yang tercerahkan). Perubahan nama ini mengindikasikan hijrah Nabi itu hakikatnya hijrah pencerahan dan pemajuan umat manusia. Sebagai pemimpin umat, Nabi SAW memberi nama baru, tentu dengan maksud memberi harapan baru dan masa depan peradaban kemanusiaan yang berkemajuan.


Seperti yang sudah diuraikan diatas, dari sejarah Hijrahnya Nabi Saw itulah para sahabat pada jaman Khalifah Umar bin Khatab sepakat menetapkannya sebagai tonggak awal Kalender penanggalan Hijriyah Islam. Yang selanjutnya selalu diperingati setiap pergantian tahun baru Hijtiyah. Di antara hikmah Allah mengantarkan kita pada pergantian tahun adalah agar hati serta pikiran kita terbuka, agar kesadaran jiwa kita tersentak, bahwa ada batas waktu pendek yang tersedia di hadapan kita. Sangat boleh jadi kita tidak sempat mencapai tujuan hidup seperti yang kita inginkan, karena waktu pendek itu tidak kita gunakan dengan baik untuk liqa' menuju Allah, padahal Allah swt. telah menyeru kita dengan fiman-Nya melalui lisan Rasul-Nya, Muhammad saw :

“Maka segeralah kembali kepada Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu.” (QS. Adz Dzariyat : 50)

Perintah berhijrah adalah suatu kewajiban yang telah ditetapkan oleh Allah Swt bagi setiap hamba-Nya yang ingin tetap istiqomah di Jalan-Nya. Kata hijrah berasal dari kata hajaruhu, yahjaruhu, hijran yang artinya, meninggalkan, memutuskan, memindahkan atau keluar. Secara harfiyah pengertian hijrah adalah perpindahan dari satu tempat ke tempat lain. Tetapi hijrah secara hakekat bukanlah berpindahnya tempat tinggal seseorang ke tempat tinggal yang baru. Dan juga bukan berarti perpindahan tempat seorang pegawai dari satu tempat ke tempat yang baru. Juga bukan berarti perpindahan para transmigran ke tempat yang baru dan bukan pula perpindahan seorang petani dari daerah gersang ke daerah subur.

“Tidak ada hijrah setelah Futuh Mekah, yang ada adalah hijrah dengan Jihad dan Niat” (HR Bukhari)

Hijrah bagi orang beriman (ma’rifat) adalah suatu proses perpindahan kesadaran dari alam jasmani ke alam ruhani. Hijrah juga merupakan suatu proses untuk meninggalkan berbagai hal yang tidak ada manfaatnya, yaitu meninggalkan berbagai dosa (kegelapan rohani), meninggalkan kesalahan dan kemalasan diri sendiri, menuju ketaatan, kedisiplinan serta kemauan yang kuat untuk tetap istiqomah di Jalan Allah. Hijrah juga bermakna pindah dari kegelapan ruhani ke alam pencerahan ruhani (Minadzdzulumai ila An Nur). Hijrah juga berarti proses perpindahan tahapan keyakinan yang berkesinambungan seorang pencari Tuhan dari Wajibul Yaqin ke Ilmul Yaqin, terus ke ‘Ainul Yaqin dan Haqul Yaqin, dan akhirnya sampai ke Isbatul Yaqin.

“Barang siapa yang berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barang siapa yang keluar dari rumahnya (jasad) dengan maksud berhijrah menuju (liqa') Allah dan Rasul-Nya, kemudian (mengalami) mati (dalam hidup) , maka ganjarannya adalah (liqa') Allah” (QS 4 : 100)

“Hijrah yang paling sempurna adalah jihad” (HR Ahmad)

“Seorang Muhajir adalah siapa saja yang meninggalkan segala yang dilarang oleh Allah” (HR Bukhari)

Hijrah wajib bagi orang-orang yang tertindas di negerinya sendiri (Makah=Bakkah). Al Qur’an menyebut Makkah dengan “Al Bakkah” berasal dari kata “Tabbak” yang artinya berjubel, memotong leher, tempat untuk menangis, taubat, shalat, haji, tempat yang diberkahi atau disucikan) sesuai dengan firman Allah :

“Sesungguhnya rumah yang mula-mula di bangun(tempat peribadatan) manusia adalah Bait Allah (Baitullah) yang terletak di Bakkah yang diberkahi dan diberi petunjuk bagi manusia” (Ali Imran 3 : 96)

“Baitullah berada di Qalbu orang mukmin” (Hadits Qudsi)

“Sesungguhnya langit dan bumi tidak berdaya menampung-Ku, namun Aku telah ditampung oleh Qalbu seorang mukmin” (HR Ahmad)

Dari pengertian ini, negeri yang sering terjajah adalah negeri qalbu atau ruhani, sehingga mengalami kesempitan dan kegelapan. Bagi mereka yang mengalami ketertindasan seperti ini, wajib berhijrah dengan jihad akbar sehingga diperoleh keluasan dan kelapangan ruhani.

“Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri (zhalim, jahil, kufur, nifaq = kegelapan) kepada mereka malaikat bertanya : “Dalam keadaan bagaimana kamu ini ?”. Mereka menjawab : “Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri Makkah”. Para malaikat berkata : “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kalau kamu dapat berhijrah di bumi itu ?”.Orang-orang itu tempatnya di neraka jahanam dan jahanam itu seburuk-buruknya tempat kembali”.(QS An Nisaa 4 : 97)

Syarat berhijrah harus dengan mengimunisasi hawa nafsu, menambatkan unta yang disimbolkan dengan “membunuh diri” sehingga dapat keluar dari kampung jasmani menuju kampung ruhani (dari kampung tanah tumpah darah, menuju kampung Cahaya Suci dan Kesucian = Hadirat Qudsiah). Hal ini sedikit yang mau dan mampu (ingat piramid kemakrifatan) bahwa yang sampai dan mampu hanya mereka yang mempunyai niat dan tekad yang sangat kuat dalam berjihad sehingga karunia Allah diperolehnya.

“Dan sesungguhnya apabila Kami perintahkan kepada mereka : “Bunuhlah dirimu dan keluarlah dari kampungmu” Niscaya mereka tidak akan melakukannya kecuali sebagian kecil dari mereka” (QS An Nisaa 4 : 66)

Sehingga bagi mereka yang berkenan memperoleh hasil dari berhijrah itu, mampu berkata : “Inilah Jalan (agama=Cahaya)-Ku.

“Katakanlah : “inilah Jalan-Ku. Aku dan orang-orang yang mengikuti aku mengajak manusia beriman (bermakrifat) kepada Allah dengan Hujjah (bukti) yang terang (bukan iman-imanan). Maha Suci Allah dan aku tidak termasuk orang yang mempersekutukan Allah”. (QS Yusuf 12 : 108)

Bagi mereka ini telah berdiri di ‘Aqabah pertama yaitu mampu meyakini dengan keyakinan yang Isbatul Yaqin, bukan yakin-yakinan atau iman-imanan. Dan dikategorikan dalam ayat-ayat Madinah sebagai orang-orang yang ”beriman atau bermakrifat” kepada Allah dan terhindar dari perilaku dan perbuatan syirik, baik syirik samar atau khafi maupun syirik yang nyata atau jali.

Syeikh Jalaluddn Ar Rumi mengatakan : "Apabila engkau ikut serta dalam barisan mereka yang mengadakan pendakian. Ketiadaan akan membawamu ke atas bagaikan Buroq. Itu bukanlah seperti naiknya makhluk hidup ke bulan, bukan, melainkan seperti naiknya pohon tebu ke gula. Itu bukanlah seperti naiknya asap ke langit, bukan itu, melainkan seperti naiknya embrio ke realitas".

Perjalanan menuju Allah adalah sebuah aktivitas peralihan atau perpindahan yang terus-menerus. Syaikh Ibnu 'Atha`illah rahimahullah menyebutnya dengan kata "hijrah", yang artinya "perpindahan dari apa pun selain Allah, menuju kepada Allah swt.; peralihan dari apa saja yang tidak diridai Allah kepada yang diridai-Nya; perubahan dari segala yang mengundang murka Allah kepada yang dicintai-Nya".

Di dalam kitab Al-Hikam, beliau mengutip perkataan seorang salih bernama Ibnu 'Ibad. Ibnu 'Ibad berkata, "Seorang hamba yang lari dari Allah menuju syahwatnya dan menuruti hawa nafsunya disebabkan oleh kebutaan hatinya dan kebodohannya terhadap Rabb-nya, (pada hakikatnya) telah mengganti sesuatu yang baik dengan yang buruk. Ia telah menukar yang abadi dengan yang fana. Padahal, dirinya tidak mungkin lepas darinya."

Ibnu 'Atha'illah lantas mengatakan : "Sungguh mengherankan orang yang lari dari Dzat yang ia tidak dapat berpisah dengan-Nya, lantas mencari sesuatu yang ia tidak menjadi kekal bersamanya, karena sesungguhnya bukanlah mata yang buta, tetapi yang buta adalah hati yang ada di dalam dada".

Ibnu Qayyim al- Jawziyyah juga pernah mengatakan : "Jika ada seorang hamba yang lari kepada Allah, pada hakikatnya dia telah lari dari sesuatu menuju kepada sesuatu yang keberadaannya atas kehendak dan takdir Allah Ta'ala. Jadi, sebenarnya sama saja, ia lari dari Allah menuju kepada Allah (firar min Allah ila Allah)". Itulah makna sabda Rasulullah saw :

"Aku memohon perlindungan dengan-Mu dari-Mu."

Begitu pula sabda beliau yang lain :

"Tidak ada tempat kembali dan tempat menyelamatkan diri dari-Mu kecuali kepada-Mu."

Apabila jiwa manusia dapat memahami makna hijrah spiritual ini, di dalam hatinya pun tidak ada ketergantungan lagi kepada selain Allah. Dia tidak akan pernah lagi merasa takut (khawf), berharap (raja`) maupun mencintai sesuatu (mahabbah) selain Allah. Hal itu berarti secara tidak langsung, ia telah mengesakan Allah dalam khawf, raja`, dan mahabbah-nya. Dari pancainderanya, akan memancari ihsan atau kebajikan. Tutur katanya baik, sehingga orang lain akan selamat dari umpatan, makian, serta fitnahnya yang menyakitkan hati. Pekerjaannya pun akan selalu bernilai ihsan (baik), dalam pengertian, tidak pernah merugikan siapa pun. Ia tidak akan melakukan tindakan manipulasi, korupsi, serta tindakan mark up, betapa pun ringan atau kecilnya, karena ia sangat yakin bahwa Allah selalu mengawasi dan "membersamai"-nya. Itulah buah dari proses hijrah yang terhunjam kuat di dalam jiwanya.

Proses hijrah kita—berlari dan berlomba menuju liqa' Allah—hendaknya sebagaimana sikap para tukang sihir Firaun, sesaat setelah mereka menyatakan beriman kepada Allah swt. Ketika itu, mereka tidak peduli dengan tawaran "kebaikan", negosiasi, posisi empuk, dan "kemuliaan" yang dijanjikan Firaun kepada mereka. Mereka juga tidak menghiraukan intimidasi, ancaman pembantaian dan pembunuhan, hingga penyaliban tubuh mereka yang disampaikan Firaun. Dengan tegas, mereka menyatakan, seperti yang diabadikan oleh al-Qur`an al- Karim :

“Mereka berkata, ‘Kami sekali-kali tidak akan mengutamakan kamu daripada bukti-bukti yang nyata (mukjizat), yang telah datang kepada kami dan daripada Tuhan yang telah menciptakan kami; maka putuskanlah apa yang hendak kamu putuskan. Sesungguhnya kamu hanya akan dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini saja’.”

Demikian kuat dan tangguhnya sikap orang-orang yang pernah menjadi tukang sihir Firaun itu. Kekufuran yang pernah menjadi bagian masa lalu mereka, ternyata tidak membuat mereka buta melihat tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Allah swt. Kejahatan yang pernah mereka lakukan dahulu, ternyata tidak membutakan mata hati mereka dari sinar hidayah Allah. Mereka diancam, tetapi mereka tetap teguh memegang hidayah itu. 

Mereka dibunuh, bahkan disalib, tetapi mereka tidak pernah bergeming—apa lagi surut—dari proses hijrah yang mereka lakukan menuju Allah swt. Inilah yang dimaksud oleh perkataan Ibnu 'Atha`illah, "Jangan engkau berpindah dari satu alam ke alam lain, karena engkau (dengan demikian) akan mirip dengan keledai yang berputar di penggilingan. Ia berjalan, dan tempat yang ditujunya ternyata tempat ia berangkat (berjalan dari situ ke situ saja). Akan tetapi, beralihlah dari segenap alam kepada Pencipta Alam, Allah swt."

*Dikompilasi dari beberapa sumber